Serangan udara Israel ke berbagai fasilitas militer Suriah meningkat tajam setelah runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad. Target yang dibom tidak hanya terbatas pada gudang senjata lama, tetapi juga mencakup pangkalan udara, bandara militer, pusat komando, hingga sistem persenjataan baru yang disebut-sebut baru saja dipindahkan ke wilayah Suriah.
Menurut berbagai laporan regional, Israel memanfaatkan kekosongan kekuasaan dan lemahnya kontrol terpusat di Suriah untuk melumpuhkan aset militer strategis sebelum jatuh ke tangan kelompok bersenjata atau kekuatan asing yang dianggap bermusuhan. Operasi ini digambarkan sebagai salah satu kampanye udara paling intens sejak konflik Suriah dimulai.
Pangkalan udara menjadi sasaran utama dalam gelombang serangan tersebut. Runway, hanggar pesawat, menara pengawas, serta depot bahan bakar dilaporkan rusak parah di sejumlah lokasi strategis seperti wilayah Homs, Hama, dan sekitar Damaskus. Bandara dengan fungsi ganda sipil-militer juga tidak luput dari serangan.
Para analis pertahanan memperkirakan biaya rekonstruksi satu pangkalan udara militer saja bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta dolar AS. Jika dikalkulasikan secara kasar pada delapan hingga belasan lokasi yang terdampak, nilai kerusakan infrastruktur udara Suriah diperkirakan menembus lebih dari satu miliar dolar AS.
Selain fasilitas fisik, Israel juga menargetkan gudang senjata dan stok persenjataan strategis. Rudal jarak pendek, amunisi berpemandu presisi, hingga drone tempur dilaporkan hancur dalam serangan presisi yang menghantam depot-depot militer di berbagai provinsi.
Nilai kerugian dari hancurnya stok senjata ini dinilai signifikan karena sebagian besar persenjataan tersebut merupakan aset mahal yang sulit diganti dalam waktu singkat. Perkiraan konservatif menyebut nilai kerusakan di sektor ini berada pada kisaran ratusan juta hingga satu miliar dolar AS.
Sistem pertahanan udara Suriah juga menjadi target penting. Berbagai sistem lama peninggalan era Soviet yang telah dimodernisasi, serta unit pertahanan jarak menengah dan radar, dilaporkan lumpuh atau hancur. Kehilangan ini berdampak langsung pada kemampuan Suriah untuk menjaga ruang udaranya.
Kerugian dari sektor pertahanan udara diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS. Meskipun sebagian sistem tergolong tua, biaya pengadaan, modernisasi, dan integrasi jaringan radar tetap menelan anggaran besar.
Isu yang paling menyita perhatian adalah klaim bahwa Israel turut menghancurkan sistem senjata buatan Turki yang baru dikirim atau diposisikan di Suriah. Sistem tersebut diduga mencakup radar modern dan rudal pertahanan udara jarak pendek hingga menengah.
Jika klaim tersebut akurat, nilai kerugian menjadi semakin besar. Satu paket sistem pertahanan udara modern bisa bernilai lebih dari seratus juta dolar AS, tergantung konfigurasi dan jumlah unitnya. Kehancuran beberapa sistem saja sudah menambah ratusan juta dolar dalam perhitungan kerugian.
Fasilitas komando dan kendali turut menjadi sasaran. Pusat komunikasi, pos komando regional, serta fasilitas logistik dilaporkan rusak berat, menyebabkan terputusnya koordinasi antarunit militer Suriah di sejumlah wilayah.
Kerusakan fasilitas pendukung ini sering kali luput dari perhatian publik, padahal biayanya sangat mahal. Kehilangan sistem komando modern dapat melumpuhkan operasi militer meski pasukan dan senjata masih tersedia.
Dengan menjumlahkan kerusakan infrastruktur udara, gudang senjata, sistem pertahanan, serta fasilitas komando, para analis memperkirakan total kerugian militer Suriah akibat serangan Israel pasca jatuhnya Assad berada pada kisaran tiga hingga empat miliar dolar AS.
Angka tersebut bersifat perkiraan kasar dan belum mencakup kerugian jangka panjang seperti penurunan kemampuan tempur, biaya pelatihan ulang personel, serta waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan kesiapan militer.
Serangan ini juga memperlihatkan perubahan kalkulasi strategis Israel yang tidak lagi sekadar menahan pengaruh Iran, tetapi juga mencegah kekuatan regional lain mengisi kekosongan militer di Suriah.
Bagi Suriah di bawah pemerintahan Presiden Ahmed Al Sharaa, kerugian ini menjadi pukulan berat di tengah situasi ekonomi yang sudah rapuh akibat perang panjang dan sanksi internasional. Kemampuan negara itu untuk mengganti aset militer yang hilang dinilai sangat terbatas.
Para pengamat menilai butuh waktu bertahun-tahun bagi Suriah untuk kembali membangun kemampuan militernya, bahkan jika stabilitas politik dapat segera dipulihkan.
Di sisi lain, eskalasi ini meningkatkan ketegangan kawasan dan menambah kompleksitas konflik Suriah yang belum sepenuhnya berakhir meski rezim lama telah tumbang.
Hingga kini, belum ada laporan resmi dari otoritas Suriah mengenai nilai kerugian pasti akibat serangan tersebut. Namun gambaran kasar menunjukkan bahwa dampaknya jauh melampaui kerusakan fisik semata.
Serangan Israel pasca jatuhnya Assad menegaskan bahwa pertarungan pengaruh di Suriah masih jauh dari selesai, dengan biaya yang harus ditanggung negara itu kian membengkak.
Advertisement